Lindungi Anak dari Kebiri Kimia, Pemerintah Tetapkan PP No. 70 Tahun 2020

Lindungi Anak dari Kebiri Kimia, Pemerintah Tetapkan PP No. 70 Tahun 2020
Gambar ilustrasi kekerasan seksual pada anak dibawah umur

Jakarta, - Laporan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) pada periode 1 Januari 2020 hingga 11 Desember 2020 menyatakan, kasus kekerasan seksual terhadap anak mencapai 5.640 kasus.

Kasus kekerasan seksual merupakan kejahatan serius yang mengingkari hak asasi anak, menimbulkan trauma bagi korban dan keluarga, menghancurkan masa depan anak serta mengganggu ketentraman dan ketertiban masyarakat.

Oleh karena itu, Pemerintah terus mengupayakan agar anak-anak di Indonesia terlindungi dari setiap tindak kekerasan dan eksploitasi melalui sejumlah peraturan perundang-undangan. Salah satunya adalah Penetapan Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak (PP Kebiri Kimia).

Oleh Presiden RI Joko Widodo hal tersebut diharapkan dapat memberikan efek jera bagi para pelaku persetubuhan dan pelaku perbuatan cabul.

"Kekerasan seksual terhadap anak harus mendapatkan penanganan secara luar biasa seperti melalui kebiri kimia karena para pelakunya telah merusak masa depan bangsa Indonesia. Itu sebabnya kami menyambut gembira ditetapkannya PP Nomor 70 tahun 2020 ini yang diharapkan dapat memberikan efek jera bagi pelaku persetubuhan dan pelaku tindak pencabulan, " tegas Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Nahar pada Senin (04/01/2021).

PP Nomor 70 atau PP Kebiri Kimia ini, lanjut dia, merupakan peraturan pelaksanaan dari amanat Pasal 81A ayat (4) dan Pasal 82A ayat (3) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Dalam PP Kebiri Kimia, pelaku kekerasan seksual terhadap anak terdiri dari pelaku persetubuhan dan pelaku perbuatan cabul. Tindakan kebiri kimia yang disertai rehabilitasi hanya dikenakan kepada pelaku persetubuhan berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

Sementara itu, tindakan pemasangan alat pendeteksi elektronik dan pengumuman identitas pelaku diberikan baik kepada pelaku persetubuhan maupun pelaku perbuatan cabul.

"Tindakan kebiri kimia dan pemasangan alat pendeteksi elektronik dikenakan untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun dan dilaksanakan setelah terpidana menjalani pidana pokok. Pelaku baru dapat diberikan tindakan kebiri kimia apabila kesimpulan penilaian klinis menyatakan bahwa pelaku persetubuhan layak dikenakan tindakan kebiri kimia, " ujar Nahar.

Selain itu, pelaku tidak semata-mata disuntikkan kebiri kimia, namun harus disertai rehabilitasi untuk menekan hasrat seksual berlebih pelaku, dan agar perilaku penyimpangan seksual pelaku dapat dihilangkan. Rehabilitasi yang diberikan kepada pelaku yang dikenakan tindakan kebiri kimia berupa rehabilitasi psikiatrik, rehabilitasi sosial, dan rehabilitasi medik.

Lebih lanjut Nahar menjelaskan bahwa tindakan kebiri kimia merupakan pemberian zat kimia melalui penyuntikan atau metode lain, yang dilakukan kepada pelaku persetubuhan yang pernah dipidana karena melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

Tindakan kebiri kimia dikenakan apabila pelaku melakukan kekerasan seksual terhadap lebih dari 1 (satu) orang korban, mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular, terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi, dan/atau korban meninggal dunia.

Nahar juga menambahkan bahwa pelaksanaan tindakan kebiri kimia, tindakan pemasangan alat pendeteksi elektronik, dan rehabilitasi dilakukan oleh petugas yang memiliki kompetensi di bidangnya atas perintah Jaksa.

Terhadap pelaku akan dikenakan pemasangan alat pendeteksi elektronik agar tidak melarikan diri dan pengumuman identitas selama 1 (satu) bulan kalender melalui papan pengumuman, laman resmi kejaksaan, media cetak, media elektronik dan/atau media sosial yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Kemen PPPA.

Adapun PP Nomor 70 tahun 2020 ini juga mengamanahkan Kementerian Kesehatan, Kementerian Hukum dan HAM serta Kementerian Sosial untuk menyusun Peraturan Menteri yang berisi tata cara dan prosedur teknis pelaksanaan tindakan kebiri kimia, pemasangan alat pendeteksi elektronik, rehabilitasi, dan pengumuman identitas pelaku.

Sumber: Infopublik 

Jakarta
Nisa

Nisa

Previous Article

Kominfo Dorong Percepatan Transformasi Digital...

Next Article

Didepan Pejabat Eselon II dan Lingkup Sekda,...

Related Posts

Peringkat

Profle

Ratna Palupi

Nisa

Nisa

Postingan Bulan ini: 49

Postingan Tahun ini: 98

Registered: Dec 21, 2020

Nopri

Nopri

Postingan Bulan ini: 21

Postingan Tahun ini: 21

Registered: Feb 4, 2021

Didi Someldi Putra, S.AP

Didi Someldi Putra, S.AP

Postingan Bulan ini: 14

Postingan Tahun ini: 17

Registered: Jan 25, 2021

Putra

Putra

Postingan Bulan ini: 12

Postingan Tahun ini: 12

Registered: Feb 4, 2021

Profle

Linda sari

Satu Unit Rumah di Desa Periangan Baru Hangus Terbakar
Kepala SMAN 2 Lengayang Gunakan Uang Komite Untuk Biaya Perjalanan Dinas
Info Program SPP UPK Mandiri Lengayang Tak Tepat Sasaran Beredar, Pengurus Enggan Diwawancarai
Pelajar di SMAN 2 Sutera Bayar Gaji Guru Hingga Transportasi Anggota Komite

Follow Us

Recommended Posts

Saat Pimpin Musrenbang Tingkat Kec.Bogor Barat, Ini Pesan Bima Arya
Pelanggar Protokol Kesehatan di Kota Bogor Bisa Dipidana
Genap-Ganjil di Kota Bogor Diperpanjang , Berikut Aturannya
Kabupaten Bogor Dipilih Jadi Penyelenggara Program Sekolah Penggerak Tahap Awal    
Pengantar Kerja Dituntut Manfaatkan Kemajuan Teknologi Digital